Program Edukasi untuk Anak-Anak CODA di Kota Gorontalo
Finalis Duta Bahasa Gorontalo 2026 menggelar program edukasi khusus bagi anak-anak yang merupakan putra-putri dari orang tua tuli, atau disebut dengan Children of Deaf Adults (CODA). Kegiatan ini bertajuk “Implementasi Krida Genta” dan berlangsung di Kedai Inkam, Kelurahan Tanggikiki, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, pada hari Minggu (3/5/2026). Tujuan utama dari program ini adalah membantu meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan komunikasi anak-anak CODA melalui pendekatan edukasi bahasa dan sastra.
Anak-anak CODA adalah individu yang memiliki kemampuan mendengar, tetapi dibesarkan oleh satu atau kedua orang tua yang tuli atau memiliki gangguan pendengaran. Mereka hidup di antara dua budaya, yaitu budaya tuli dan budaya mendengar. Oleh karena itu, mereka sering kali menjadi jembatan komunikasi antara orang tua dan dunia luar. Namun, kondisi ini juga bisa menjadi tantangan, terutama dalam hal pengembangan diri dan interaksi sosial.
Ketua program, Siti Nurhaliza Mustapa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan edukasi yang fokus pada narasi dan tutur anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tuli. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak agar mereka mampu menyampaikan pikiran dan perasaan mereka secara lebih percaya diri.
“Kami mendorong anak-anak untuk lebih berani menyuarakan dan menarasikan apa yang mereka pikirkan,” ujarnya. Menurut Siti, lingkungan yang terbatas sering kali membuat anak-anak CODA kesulitan berkembang, terutama dalam hal kepercayaan diri. Oleh karena itu, program ini juga menjadi bentuk pendampingan agar mereka dapat belajar dalam suasana yang lebih inklusif.
Sementara itu, Koordinator Acara, Falmes Lakadjo, menyebutkan bahwa anak-anak CODA memiliki keunikan tersendiri karena mampu menggunakan bahasa isyarat sekaligus bahasa lisan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan bahwa seluruh peserta telah mendapatkan izin dari orang tua, bahkan dukungan yang diberikan terlihat jelas selama kegiatan berlangsung.
Falmes menjelaskan bahwa anak-anak CODA sering menghadapi kondisi sosial yang terbatas, sehingga mereka terkadang terbawa oleh situasi di rumah saat berada di sekolah. Hal ini juga memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Untuk itu, program ini hadir sebagai upaya memberikan stimulus yang bermanfaat bagi perkembangan mereka.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan dibagi ke dalam beberapa segmen. Salah satunya adalah segmen mendengar, yang memberi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman mereka secara terbuka. Melalui tahapan tersebut, peserta tampak semakin berani dan aktif dalam mengungkapkan isi pikiran mereka.
“Telah kita lihat bersama tadi mereka sangat berani sekali untuk mengungkapkan apa yang ada di isi pikiran mereka,” jelas Falmes. Ia berharap program ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja, melainkan dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi anak-anak CODA.










Discussion about this post