Bryan Givan, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin
CO.ID, BEKASI — Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tidak lagi menjadi wacana masa depan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari ruang kelas hingga layar laptop mahasiswa, AI hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari menyusun tugas, mencari referensi, hingga membuat presentasi, AI telah menjadi “teman belajar” yang praktis dan efisien.
Berdasarkan laporan global, lebih dari 90 persen mahasiswa menggunakan AI dalam aktivitas akademiknya. Angka ini bukan sekadar data, tetapi menunjukkan bahwa dunia pendidikan sedang mengalami transformasi besar-besaran. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar siap menghadapi perubahan ini?
Sebagai Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat fenomena ini dari dua sudut pandang. Di satu sisi, AI membuka peluang luar biasa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Di sisi lain, ada risiko yang tidak bisa diabaikan: melemahnya kemampuan berpikir mandiri.
AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti nalar. Ketika mahasiswa terlalu bergantung pada AI, proses berpikir kritis justru berpotensi tergerus. Esensi pendidikan tinggi bukan hanya tentang menghasilkan jawaban cepat, tetapi membentuk cara berpikir yang tajam, analitis, dan reflektif.
Di era digital ini, dua kemampuan menjadi kunci: literasi digital dan berpikir kritis. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu mengakses informasi dengan cepat. Mereka harus mampu memverifikasi, memahami konteks, dan menyusun argumen berdasarkan sudut pandang sendiri. Inilah kompetensi yang tak tergantikan teknologi, seberapa canggih pun AI berkembang.
Kondisi ini juga menuntut perguruan tinggi beradaptasi. Di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, integrasi teknologi dalam pembelajaran bukan sekadar tren, tetapi strategi. Mahasiswa tidak hanya diajarkan menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerja, potensi, dan risikonya dalam kehidupan nyata.
Transformasi ini selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Industri saat ini tidak hanya mencari lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi mereka yang adaptif terhadap teknologi dan mampu memanfaatkannya secara produktif. Profesi seperti data analyst, software developer, hingga digital strategist terus mengalami lonjakan kebutuhan.
Namun sekali lagi, kunci utamanya bukan pada seberapa cepat seseorang menggunakan AI, melainkan seberapa bijak ia memanfaatkannya. Mahasiswa unggul bukanlah yang sekadar “mengandalkan” AI, tetapi mereka yang mampu “mengendalikan” AI untuk memperkuat ide, mempercepat proses, dan menciptakan solusi. AI bisa membantu menemukan jawaban, tetapi tidak bisa menggantikan proses memahami makna.
Di titik inilah kesadaran menjadi penting. Mahasiswa harus mulai bertanya pada diri sendiri: apakah AI membantu saya belajar, atau justru membuat saya berhenti berpikir?
Pada akhirnya, AI adalah keniscayaan. Ia akan terus berkembang dan semakin terintegrasi dalam kehidupan kita. Pilihannya hanya dua: menjadi pengguna pasif yang bergantung, atau menjadi individu adaptif yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas. Saatnya mahasiswa tidak hanya cerdas menggunakan AI, juga bijak mengendalikannya.










Discussion about this post