Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, kembali menyorot kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah setelah membagikan video dari Palangkaraya yang memperlihatkan langit dan lingkungan sekitar berubah oranye akibat asap. Melalui unggahan di Instagram @gretathunberg, ia meminta publik internasional ikut menyebarkan rekaman itu dan menilai krisis kebakaran beserta kabut asap masih belum usai.
Dalam video yang diunggah, seorang warga yang menjelaskan situasi di lapangan tampak memakai masker respirator dan kacamata pelindung. Nuansa warna jingga yang mendominasi gambar menjadi penanda tebalnya kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut. Greta membuka pesannya dengan seruan agar perhatian dunia tertuju pada kondisi di Indonesia, khususnya Kalimantan.
“Darurat!! Silakan bagikan pesan ini dari Kalimantan Indonesia,” tulis Greta, sebagaimana diterjemahkan dari unggahannya. Ia kemudian menekankan bahwa apa yang terlihat di media sosial belum menggambarkan keadaan sesungguhnya di lapangan. Menurut dia, dampak krisis ini jauh lebih berat daripada yang tampak dalam cuplikan video.
Greta juga memaparkan sejumlah dampak yang ia klaim dialami warga dan lingkungan. Dalam unggahan yang sama, ia menyebut sekitar 2 juta hektare hutan telah rusak akibat kebakaran, satwa ikut terbakar, warga kesulitan bernapas, dan penduduk desa kehilangan sumber penghidupan seperti hutan serta kebun karet. Ia juga menuliskan bahwa petugas pemadam kebakaran turut menjadi korban jiwa saat menjalankan tugas.
Meski begitu, angka-angka yang disebut Greta merupakan klaim di dalam unggahan media sosial dan belum otomatis dapat dijadikan data resmi. Perlu verifikasi lebih lanjut untuk memastikan wilayah yang dimaksud, periode kejadian, serta besaran kerugian yang sebenarnya. Informasi semacam ini penting agar publik memperoleh gambaran yang akurat tentang skala karhutla di Kalimantan.
Selain dampak ekologis, Greta menyoroti sisi kesehatan dari kabut asap yang melanda wilayah tersebut. Ia menyebut 277.075 orang dirawat di rumah sakit karena infeksi saluran pernapasan akut, termasuk 62.400 anak di bawah usia lima tahun. Dalam unggahannya, ia juga mengatakan situasi itu telah berlangsung selama empat bulan. Sama seperti klaim lain yang ia sampaikan, angka ini juga memerlukan pengecekan dari sumber resmi.
Di bagian akhir unggahan, Greta mengajak publik mendukung penggalangan dana bertajuk Borneo’s Fires and Haze Crisis Fundraising Campaign. Dana itu, menurutnya, ditujukan untuk membantu pemadam kebakaran, membangun tempat perlindungan dari asap, melindungi anak-anak dan kelompok rentan, serta menjaga hutan yang masih tersisa. Unggahan tersebut membuat persoalan karhutla di Kalimantan kembali masuk sorotan internasional, di tengah kebutuhan penanganan kesehatan dan perlindungan warga terdampak.










Discussion about this post