JAKARTA — Tekanan di pasar keuangan kian membesar pada Jumat, 16 Oktober 2026, setelah rupiah melemah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Mengacu pada data Bloomberg, kurs rupiah berada di Rp 18.027 per dolar AS, sementara referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan pelemahan 0,58% ke Rp 18.052 per dolar AS. Bersamaan dengan itu, pasar saham ikut terguncang hingga sempat terjadi trading halt, memunculkan kekhawatiran bahwa situasinya sudah mendekati kondisi darurat makroekonomi.
Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai kombinasi jatuhnya saham dan merosotnya rupiah mengirim sinyal yang tidak bisa dianggap ringan. Menurut dia, otoritas moneter dan fiskal perlu bergerak cepat agar gejolak tidak merembet lebih jauh ke sektor riil. Ia melihat pelemahan yang terjadi bukan hanya soal fluktuasi harian, melainkan tanda bahwa kepercayaan pasar sedang terganggu.
Dalam pandangannya, kekhawatiran investor terhadap rencana MSCI menurunkan Indonesia menjadi Standalone Market menjadi salah satu pemicu utama. Rahma menegaskan bahwa isu tersebut berkaitan langsung dengan persepsi investor global terhadap kualitas tata kelola dan kestabilan ekonomi domestik. Ia menyebut keputusan MSCI biasanya tidak muncul tanpa alasan mendasar, melainkan dipengaruhi persoalan yang lebih struktural.










Discussion about this post