Operator kompetisi I.League menyatakan dukungan penuh terhadap sikap tegas Ketua Umum PSSI Erick Thohir dalam merespons kembali munculnya kekerasan di sepak bola Indonesia. Di tengah sorotan atas sejumlah insiden dalam beberapa hari terakhir, Direktur Utama I.League Ferry Paulus menegaskan bahwa pihaknya kini membuka kemungkinan hukuman yang lebih berat bagi klub yang terbukti melakukan pelanggaran serius, termasuk pengurangan poin.
Ferry menyebut langkah itu diperlukan agar ada efek jera yang benar-benar terasa, sekaligus menjaga arah perkembangan kompetisi yang menurutnya sudah bergerak positif. I.League, kata dia, siap bekerja bersama PSSI untuk memperkuat aturan dan Kode Disiplin agar pelanggaran tidak lagi hanya berujung pada hukuman ringan. Ia menilai momentum kebangkitan liga harus dilindungi, bukan justru diganggu oleh tindakan kekerasan.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari laman resmi I.League pada Jumat (16/10/2026), Ferry menilai atmosfer kompetisi saat ini sebenarnya menunjukkan perbaikan. Kehadiran suporter tim tamu yang kembali diizinkan, kata dia, menjadi salah satu capaian penting yang harus dijaga bersama. Karena itu, ia meminta seluruh pihak tidak membiarkan tindakan segelintir orang merusak kepercayaan yang sudah dibangun.
Dorongan memperketat sanksi muncul setelah dua peristiwa yang menyita perhatian publik. Salah satunya adalah dugaan penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu (11/10/2026). Saat itu, skuad muda Persib sedang dalam perjalanan pulang usai melawan Persis Solo di Lapangan UNS, Surakarta.
Insiden tersebut tidak berhenti pada intimidasi semata. Seorang kru media Persib disebut menjadi korban kekerasan fisik, bus tim mengalami perusakan, dan sejumlah koper milik pemain serta ofisial ikut dijarah. Setelah kejadian itu, rombongan suporter The Jakmania wilayah Cikampek juga menjadi sasaran pelemparan batu oleh orang tak dikenal saat bus melintas di Tol Palikanci KM 200, Cirebon, Jawa Barat, pada Senin, 12 Oktober 2026 dini hari.
Menurut Ferry, hukuman berupa denda finansial sudah tidak cukup untuk menghadapi pola pelanggaran seperti ini. Ia menegaskan perlunya pembaruan pendekatan disiplin, termasuk kemungkinan pemotongan poin bagi klub bila terjadi pelanggaran berat sesuai aturan yang berlaku. Namun, I.League juga menegaskan bahwa tidak semua persoalan bisa disamakan: pelanggaran yang terjadi di stadion atau area pertandingan tetap masuk ranah disiplin sepak bola, sementara aksi kekerasan di luar pertandingan menjadi urusan penegakan hukum pidana oleh kepolisian.
Ke depan, I.League berjanji memperketat evaluasi kepatuhan klub, memperkuat mitigasi risiko pertandingan, meningkatkan koordinasi pengamanan, serta memperluas edukasi kepada komunitas suporter. Ferry menegaskan, tujuan akhir dari langkah yang lebih keras ini bukanlah menghukum sepak bola Indonesia, melainkan memastikan kompetisi tetap maju, stadion tetap aman, dan kebijakan kehadiran suporter tamu tidak hilang akibat ulah pihak yang tidak bertanggung jawab.










Discussion about this post