Danantara Indonesia menyatakan siap menempatkan dana pada saham-saham berfundamental kuat ketika pasar saham domestik sedang terguncang. Sikap itu disampaikan CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani di Jakarta, Jumat (16/10/2026), di tengah pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 11,33% ke level 5.202 pada pukul 15.22 WIB berdasarkan data RTI Business. Rosan menilai tekanan di bursa lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan nonfundamental, bukan karena kinerja emiten memburuk.
Menurut Rosan, kondisi saat ini justru membuka peluang bagi Danantara untuk masuk ke pasar modal Indonesia dengan pendekatan investasi jangka panjang. Ia menegaskan bahwa acuan utama Danantara adalah kekuatan fundamental perusahaan, sehingga koreksi harga saham dinilai bisa menjadi kesempatan untuk mengoleksi aset berkualitas dengan valuasi lebih rendah. Dalam konferensi pers di Gedung BEI, ia mengatakan pihaknya melihat situasi ini sebagai kesempatan dan tetap optimistis terhadap prospek pasar.
Tekanan terhadap IHSG juga tercermin dari pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Kelompok big caps, terutama dari sektor perbankan, teknologi, telekomunikasi, dan pertambangan, ikut terseret turun. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar hari itu, mencapai Rp5,3 triliun, namun harganya terkoreksi 13,99% atau 850 poin menjadi Rp5.225 per saham.
Penurunan serupa dialami emiten perbankan besar lain. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melemah 12,26% ke Rp2.720 per saham dengan nilai transaksi Rp1,9 triliun. Adapun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 8,54% ke Rp3.640 per saham dengan nilai transaksi Rp1,4 triliun. Koreksi di saham-saham unggulan inilah yang ikut memperdalam pelemahan indeks pada perdagangan Jumat.
Rosan menilai harga sejumlah saham blue chip, khususnya bank dan emiten BUMN, sudah berada di level yang sangat murah. Ia menyebut beberapa saham perbankan utama kini diperdagangkan di bawah nilai buku, atau price to book value di bawah satu kali, dan bahkan berada di bawah rata-rata industri. Karena itu, Danantara melihat kondisi pasar saat ini sebagai momentum untuk mempercepat penempatan investasi di pasar modal dalam negeri.
Ia juga menekankan bahwa Danantara hadir sebagai investor strategis jangka panjang, bukan pemain yang berburu keuntungan singkat. Rosan menyampaikan keyakinannya bahwa perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa Indonesia tetap memiliki prospek pertumbuhan yang baik ke depan, meski pasar sedang berada dalam tekanan. Dalam pandangannya, fundamental ekonomi dan emiten di Indonesia masih solid meskipun sentimen global menekan harga saham.
Di sisi lain, pasar terguncang setelah MSCI Inc. membuka konsultasi publik terkait usulan reklasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Pengumuman itu disampaikan pada Kamis (15/10/2026) malam, dan keputusan finalnya dijadwalkan keluar paling lambat akhir Juni 2027. Langkah tersebut dipicu kekhawatiran pelaku pasar internasional terhadap investabilitas pasar saham Indonesia.










Discussion about this post