Nama Wayan Koster kembali ramai dibahas setelah sebuah video yang memperlihatkan dirinya berdebat dengan petugas SPBU beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, Koster meminta SPBU di Bali beroperasi selama 24 jam untuk merespons kelangkaan BBM di Pesanggaran, Denpasar, pada Rabu (14/10/2026) tengah malam. Seorang petugas perempuan kemudian menyampaikan keberatan karena kebijakan tersebut dianggap menambah beban kerja. Respons singkat Koster, “Diam kamu,” ikut memantik reaksi publik.
Polemik itu membuat sosok Gubernur Bali tersebut kembali disorot. Di luar peristiwa yang viral itu, Koster adalah politikus asal Buleleng yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan, organisasi, dan pemerintahan. Ia lahir di Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng, pada 1962, lalu menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Sembiran, melanjutkan ke SMP Bhaktiyasa Singaraja, dan menamatkan sekolah menengah atas di SMAN 1 Singaraja.
Selepas sekolah, Koster merantau ke Bandung untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendidikan tingginya berlanjut ke jenjang magister di STIE IGI Jakarta dan doktoral di Universitas Negeri Jakarta. Jalur akademik itu kemudian membawanya bekerja sebagai peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1988-1994. Ia juga mengajar sebagai dosen tidak tetap di beberapa kampus antara 1992-2004, di antaranya STIE Perbanas Jakarta, Universitas Pelita Harapan Tangerang, Universitas Tarumanagara Jakarta, dan Universitas Negeri Jakarta.
Karier politik Koster dimulai dari parlemen. Ia masuk DPR RI pada 2004 dan bertahan selama tiga periode berturut-turut, yakni 2004-2009, 2009-2014, dan 2014-2019. Setelah menuntaskan masa tugas di Senayan, ia maju ke panggung politik daerah dan memenangkan pemilihan Gubernur Bali untuk periode 2018-2023. Berdasarkan informasi dari baliprov.go.id, Koster kemudian kembali dipercaya memimpin provinsi itu untuk masa jabatan 2025-2029.
Selain di pemerintahan, Koster juga aktif dalam organisasi. Ia pernah menjadi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Peradah Indonesia selama dua periode, masing-masing pada 1990-1994 dan 1994-1998. Setelah itu, ia menjabat Sekretaris Jenderal DPP Prajaniti Hindu Indonesia selama 2000-2005 dan 2005-2010. Jejak organisasi ini menambah panjang rekam jejaknya sebelum dan sesudah masuk ke politik elektoral.
Di kehidupan pribadi, Koster menikah dengan Ni Luh Putu Putri Suastini dan memiliki dua anak perempuan, Ni Putu Dhita Pertiwi serta Ni Made Wibhuti Bhawani. Dari sisi kekayaan, ia tercatat melaporkan total harta sebesar Rp3.656.061.504 dalam LHKPN per 31 Desember 2025. Aset terbesarnya berupa tanah dan bangunan senilai Rp3.254.000.000, disusul kendaraan, harta bergerak lain, dan kas yang tercatat sebesar Rp1.961.504.
Rincian laporan itu menunjukkan kepemilikan sejumlah bidang tanah dan bangunan di Jakarta Barat, Tabanan, serta beberapa lokasi di Buleleng. Ia juga memiliki mobil Toyota Alphard 3.5 Q A/T tahun 2016 senilai Rp280.000.000. Dengan latar akademik, pengalaman birokrasi, dan karier politik yang panjang, Koster kini kembali menjadi pusat perhatian, kali ini bukan karena jabatan, melainkan karena perdebatan soal kebijakan SPBU 24 jam yang viral.










Discussion about this post