Cesc Fabregas menilai Como masih berada dalam fase belajar setelah kalah 2-3 dari Feyenoord pada laga kedua fase liga Liga Champions di Stadion De Kuip, Rotterdam, Rabu (14/10/2026). Meski sempat unggul lebih dulu melalui Assane Diao, tim milik Grup Djarum itu gagal mempertahankan keunggulan dan pulang tanpa poin dari Belanda.
Como membuka pertandingan dengan baik saat Diao membobol gawang tuan rumah pada menit ke-18. Namun, keunggulan itu hanya bertahan singkat. Feyenoord segera membalas lewat Gjivai Zechiel dua menit berselang, lalu mengambil alih permainan dengan gol Anis Hadj Moussa pada menit ke-52. Situasi Como makin sulit setelah Robert Sanchez mencetak gol bunuh diri pada menit ke-81, sebelum Anastasios Douvikas memperkecil ketertinggalan di masa injury time.
Hasil tersebut menjadi kekalahan pertama Como di Liga Champions musim ini. Sebelumnya, klub asal Italia itu sempat membuat kejutan pada debut mereka di kompetisi elite Eropa dengan menang telak 4-1 atas RB Leipzig di Giuseppe Sinigaglia. Namun, lawatan ke Rotterdam menunjukkan tantangan yang jauh lebih berat bagi skuad asuhan Fabregas.
Fabregas mengibaratkan anak asuhnya seperti pendatang baru yang baru memasuki lingkungan baru dan masih harus menyerap banyak hal. Menurutnya, pengalaman di Liga Champions menuntut penyesuaian cepat, baik dari sisi taktik maupun mental. Ia juga mengakui laga tandang di kompetisi ini memiliki tingkat kesulitan berbeda dibanding bermain di kandang sendiri.
Dalam pertandingan ini, keputusan Fabregas melakukan rotasi dan mengubah susunan pemain ikut menjadi sorotan. Nico Paz dipasang sebagai penyerang tengah semu sejak awal, sementara striker murni Douvikas baru masuk pada menit ke-60. Kapten Lucas Da Cunha juga baru tampil pada waktu yang sama. Fabregas menjelaskan strategi itu dipilih karena dianggap cocok untuk menekan Feyenoord, meski pada akhirnya tidak menghasilkan kemenangan.
“Kami memilih strategi ini karena menganggapnya sebagai cara yang tepat untuk menyerang mereka, seperti yang terlihat pada gol Diao,” ucap Fabregas, dikutip BolaSport.com dari Tuttomercatoweb. Ia menambahkan bahwa timnya masih harus berkembang dan belajar menghadapi situasi tertentu, apalagi mereka baru pertama kali tampil di Rotterdam. Fabregas juga menegaskan bahwa Como sebenarnya sudah berada di Liga Champions lebih cepat dari perkiraan semula, sekaligus menyebut level kompetisi ini sangat tinggi.
“Liga Champions adalah kompetisi terberat. Terkadang level di Liga Champions lebih tinggi daripada di Piala Dunia,” kata Fabregas. Pelatih berusia 39 tahun yang pernah bermain untuk Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu tetap melihat perjalanan Como di Eropa sebagai proses penting, meski hasil di De Kuip menunjukkan bahwa mereka masih harus menempuh jalan panjang untuk bersaing di level tertinggi.










Discussion about this post