Investor yang memburu pendapatan dividen pada pertengahan Oktober 2026 punya sejumlah pilihan di Bursa Efek Indonesia. Mulai Senin, 12 Oktober, hingga 16 Oktober 2026, ada tujuh emiten yang memasuki masa cum date dividen interim. Artinya, saham harus sudah dimiliki paling lambat pada tanggal tersebut agar hak dividen tetap melekat.
Daftar emiten itu mencakup PT Astra International Tbk (ASII), PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK), PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN), dan PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH). Ketujuhnya berasal dari sektor yang berbeda, mulai dari otomotif, ritel, sawit, properti, hingga perdagangan buah.
Dari sisi nilai pembagian, ASII menjadi yang paling besar secara total. Emiten konglomerasi itu menyalurkan dividen interim sekitar Rp 3,89 triliun, setara Rp 98 per saham. Di belakangnya ada AMRT dengan total Rp 595,83 miliar atau Rp 14,50 per saham, AUTO sebesar Rp 349,52 miliar atau Rp 72,52 per saham, PLIN Rp 268,71 miliar atau Rp 76 per saham, TLDN Rp 258,93 miliar atau Rp 20 per saham, BSBK Rp 25,09 miliar atau Rp 1 per saham, serta BUAH Rp 20 miliar atau Rp 10 per saham.
Jika dihitung dari harga penutupan 9 Oktober 2026, TLDN mencatat imbal hasil dividen paling tinggi di antara saham yang dianalisis, yakni 3,25%. Setelah itu menyusul PLIN sebesar 3,03%, AUTO 2,15%, ASII 2,03%, dan AMRT 1,17%. Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai, dalam kondisi IHSG yang masih tertekan, saham pembagi dividen bisa menjadi salah satu cara untuk memperoleh arus kas sambil menjaga risiko portofolio. Pada penutupan perdagangan 9 Oktober 2026, IHSG berada di level 6.093 atau turun sekitar 29,5% secara year to date.
Ratih juga mengingatkan bahwa mengejar dividen menjelang cum date bukan berarti tanpa risiko. Secara teori pasar, ekspektasi pembagian dividen kerap sudah masuk ke harga saham sejak pengumuman, sedangkan pada ex-date harga dapat terkoreksi. Situasi ini bisa memunculkan dividend trap, yaitu ketika pelemahan harga setelah ex-date lebih besar daripada dividen tunai yang diterima pemegang saham. Karena itu, ia menyarankan investor membeli bertahap, tidak hanya terpaku pada besaran yield, dan tetap memperhatikan rekam jejak pembagian dividen serta kekuatan laba emiten.
Dari sisi fundamental, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai AUTO layak masuk radar karena menggabungkan dividen dan kenaikan kinerja. Pada semester I-2026, laba bersih AUTO tumbuh sekitar 22% secara tahunan menjadi Rp 1,15 triliun. ASII juga tetap menarik untuk investor yang ingin eksposur ke bisnis terdiversifikasi, meski laba bersihnya pada periode yang sama turun sekitar 19% menjadi Rp 12,53 triliun. Sementara itu, AMRT punya prospek jangka panjang lewat ekspansi gerai dan konsumsi domestik, walau nilai dividennya relatif kecil dibanding harga saham.
Untuk TLDN, PLIN, BSBK, dan BUAH, investor perlu menimbang karakter bisnis masing-masing. Kinerja TLDN sangat terkait harga CPO, produktivitas kebun, dan biaya operasional. PLIN bergantung pada okupansi serta kondisi properti komersial. Adapun BSBK dan BUAH memerlukan penilaian yang lebih selektif, terutama dari sisi skala usaha, kualitas laba, dan kemampuan mempertahankan pertumbuhan setelah pembagian dividen.










Discussion about this post