Upin & Ipin, serial animasi asal Malaysia yang sejak lama akrab dengan penonton Indonesia, kerap dianggap dekat dengan kehidupan sehari-hari karena menampilkan suasana Kampung Durian Runtuh dan aktivitas anak-anak. Namun, di balik cerita yang sederhana dan hangat itu, ada sejumlah detail yang jika ditelaah dengan logika justru terasa janggal. Tiga di antaranya paling sering dibicarakan: mimpi kembar yang serupa, pelajaran sekolah yang terlampau berat, dan kemampuan Rajoo berbicara dengan hewan.
Keanehan pertama berkaitan dengan Upin dan Ipin sebagai saudara kembar. Hubungan mereka memang digambarkan sangat erat, tetapi serial ini beberapa kali menunjukkan keduanya mengalami mimpi yang identik pada waktu yang sama. Dalam beberapa episode, mereka disebut bermimpi bertemu Mak dan Abah, berubah menjadi kecil, menjadi pesulap, menjadi tanaman, hingga tumbuh rambut. Secara cerita, hal itu memperkuat kesan bahwa keduanya selalu kompak. Namun dari sisi logika, mimpi biasanya bersifat pribadi dan muncul secara acak, sehingga kesamaan detail yang persis antara dua orang, bahkan saudara kembar, terasa sulit dibayangkan terjadi terus-menerus.
Kejanggalan berikutnya terlihat dari aktivitas belajar di Tadika Mesra. Jika dibandingkan dengan pengalaman umum anak taman kanak-kanak, materi yang diterima Upin dan Ipin kadang terasa terlalu maju. Mereka memang pernah diperlihatkan belajar membaca, berhitung sederhana, serta mengenal huruf dan warna. Akan tetapi, ada episode yang menunjukkan tugas dan materi yang lebih berat dari usia mereka, seperti membuat miniatur rumah dalam episode “Rumah Hijau Opah” dan menyerahkannya keesokan hari. Serial ini juga pernah menampilkan pengenalan perkalian, proses terbentuknya pelangi, sampai sistem pencernaan manusia, padahal topik-topik semacam itu biasanya baru dipelajari di sekolah dasar.
Hal ketiga yang mencuri perhatian adalah Rajoo, anak Uncle Muthu, yang digambarkan memiliki hubungan istimewa dengan binatang. Karakter yang tidak terlalu sering muncul ini dikenal lewat kedekatannya dengan sapi peliharaan keluarga tersebut, Sapy. Dalam film Geng Pengembaraan Bermula, Rajoo tampak memberi perintah dan Sapy langsung bergerak, lalu mengangguk seolah memahami. Respons hewan itu tidak hanya berupa gerakan tubuh, tetapi juga ekspresi yang membuatnya tampak seperti benar-benar mengerti ucapan Rajoo. Di bagian lain, Rajoo juga diperlihatkan memahami Opet, hewan yang ditemuinya di hutan, dan sebaliknya.
Jika dilihat dari dunia nyata, kemampuan semacam itu jelas tidak mungkin terjadi. Binatang tidak berkomunikasi dengan manusia menggunakan bahasa yang tersusun seperti kosakata dan kalimat, sementara manusia juga tidak dapat menangkap maksud binatang secara verbal. Karena itu, kemampuan Rajoo menjadi salah satu elemen paling fantastis dalam serial ini. Meski begitu, justru detail seperti inilah yang membuat Upin & Ipin terasa unik dan penuh imajinasi.
Pada akhirnya, tiga kejanggalan tersebut tidak mengurangi daya tarik Upin & Ipin sebagai tontonan keluarga. Sebaliknya, unsur-unsur yang tidak sepenuhnya masuk akal itu ikut membangun dunia kartun yang bebas dari batas logika sehari-hari. Penonton mungkin jarang memikirkannya saat menikmati cerita, tetapi saat disorot lebih dekat, justru di situlah letak serunya: sebuah serial yang akrab, lucu, dan tetap menyimpan banyak hal ganjil untuk dibahas.










Discussion about this post