Seruan Kapolda Aceh: Jaga Ketertiban dan Hindari Perjudian Selama Piala Dunia 2026
Menyambut gegap gempita Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026, Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat Aceh. Imbauan ini menekankan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), menjunjung tinggi nilai sportivitas, serta yang terpenting, menjauhi segala bentuk aktivitas perjudian yang seringkali menyertai euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia ini.
Kapolda menekankan bahwa Piala Dunia seharusnya menjadi momentum perayaan olahraga internasional yang sarat dengan hiburan, mempererat tali silaturahmi, dan memperkuat rasa persatuan serta kebersamaan di tengah masyarakat. Sebaliknya, ajang ini tidak boleh menjadi pemicu konflik, pelanggaran hukum, maupun gangguan terhadap stabilitas keamanan.
“Kita memahami betapa besar minat masyarakat terhadap sepak bola. Oleh karena itu, mari kita jadikan pertandingan Piala Dunia sebagai sarana hiburan dan ajang silaturahmi yang bermakna. Sambil menikmati setiap pertandingan, kita juga harus tetap menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif dan tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan dukungan terhadap tim favorit,” ujar Kapolda Aceh.
Beliau secara spesifik mengingatkan agar perhelatan akbar ini tidak disalahgunakan sebagai sarana perjudian dalam bentuk apapun, baik yang dilakukan secara tatap muka maupun melalui platform digital. Praktik perjudian, menurut Kapolda, merupakan tindak pidana yang memiliki konsekuensi hukum berat dan berpotensi menimbulkan dampak sosial yang merusak, tidak hanya bagi individu yang terlibat, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Menjunjung Sportivitas dan Menghindari Fanatisme Berlebihan
Lebih lanjut, masyarakat juga diimbau untuk tidak terbawa oleh fanatisme berlebihan saat mendukung tim kesayangannya. Perbedaan pilihan tim dalam sebuah kompetisi olahraga adalah hal yang lumrah dan seharusnya disikapi dengan kedewasaan, kesantunan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai sportivitas.
“Jangan sampai perbedaan dukungan berujung pada saling mengejek, penghinaan, penyebaran ujaran kebencian, atau tindakan provokatif yang dapat memicu konflik. Sepak bola sejatinya adalah perekat bangsa, bukan pemecah belah atau sumber gangguan Kamtibmas,” tegas Kapolda.
Kapolda juga mengimbau masyarakat untuk menahan diri dari euforia yang berlebihan ketika tim yang didukung meraih kemenangan. Aktivitas seperti konvoi kendaraan di jalan raya, menyalakan petasan, atau kegiatan lain yang berpotensi mengganggu ketertiban umum dan membahayakan keselamatan pengguna jalan harus dihindari.
Sebaliknya, apabila tim yang didukung mengalami kekalahan, masyarakat diminta untuk tetap menunjukkan sikap dewasa dan sportif. Kekecewaan hendaknya tidak dilampiaskan dengan tindakan anarkis atau pengrusakan fasilitas umum.
“Kami mengingatkan agar tidak ada pihak yang melakukan pengrusakan terhadap fasilitas tempat menonton bersama, warung kopi, kafe, videotron, maupun fasilitas umum lainnya hanya karena kecewa tim yang didukung mengalami kekalahan. Tindakan semacam itu tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat berimplikasi hukum serius,” tegasnya.
Kepatuhan Terhadap Hak Siar dan Kearifan Lokal
Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Aceh turut mengingatkan masyarakat, pelaku usaha, dan pengelola tempat umum untuk mematuhi ketentuan terkait hak siar Piala Dunia 2026. Penayangan pertandingan secara publik, apalagi untuk kepentingan komersial, harus dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
“Kami juga mengimbau masyarakat dan para pelaku usaha untuk menghormati ketentuan hak siar yang berlaku. Pastikan setiap kegiatan nonton bareng atau penayangan publik dilakukan sesuai aturan. Jangan sampai antusiasme menyaksikan Piala Dunia justru berujung pada persoalan hukum,” jelasnya.
Kapolda Aceh mengajak seluruh masyarakat untuk tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah. Semangat mendukung tim favorit harus selaras dengan pelaksanaan Syariat Islam, norma kesopanan, etika bermasyarakat, serta budaya saling menghormati yang telah menjadi identitas masyarakat Aceh.
“Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang menjunjung tinggi sportivitas, persaudaraan, dan nilai-nilai Syariat Islam. Nikmati pertandingan dengan cara yang santun, tertib, dan bermartabat,” serunya.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk bijak dalam menggunakan media sosial, tidak menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, maupun konten provokatif yang dapat memicu perselisihan antar-suporter.
Untuk memastikan situasi tetap kondusif, Polda Aceh beserta seluruh jajaran akan terus berupaya melakukan langkah-langkah preventif, edukatif, dan pengawasan di lapangan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
“Dengan menjunjung tinggi sportivitas, menghormati perbedaan pilihan tim, menjaga nilai-nilai Syariat Islam, serta mematuhi hukum yang berlaku, kami berharap seluruh rangkaian Piala Dunia 2026 dapat dinikmati sebagai hiburan yang membawa kebahagiaan, mempererat persaudaraan, dan tetap menjaga kondusivitas Kamtibmas di Aceh,” tutup Kapolda Aceh.
Euforia Jersey Tim Nasional Mulai Terasa di Aceh Tengah
Di tengah imbauan menjaga ketertiban dan sportivitas, euforia menyambut Piala Dunia 2026 ternyata sudah mulai merayap hingga ke Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Meskipun perhelatan akbar sepak bola ini baru akan dimulai pertengahan Juni mendatang, antusiasme masyarakat dan para pencinta kulit bundar di Kota Dingin ini sudah mulai terlihat. Salah satu indikasi yang paling kentara adalah meningkatnya perburuan jersey tim nasional dari negara-negara peserta turnamen.
Penjualan jersey tim kontestan Piala Dunia 2026 dilaporkan mulai mengalami peningkatan dan terbilang cukup ramai. Fenomena ini terpantau di berbagai toko perlengkapan olahraga, salah satunya di Toko Anugerah Sports yang berlokasi di Bale Atu, Takengon.
Pemilik Toko Anugerah Sports, Alfian, mengungkapkan bahwa gairah para pencinta sepak bola di Aceh Tengah untuk membeli jersey timnas peserta Piala Dunia 2026 sudah mulai terasa. Ia memprediksi bahwa omzet penjualan jersey ini akan melonjak drastis beberapa hari menjelang pertandingan pembuka di bulan Juni, seiring dengan memanasnya tensi turnamen.
Alfian mengaku selektif dalam menyediakan stok jersey. Ia hanya berani menyediakan produk dari negara-negara yang memiliki pemain bintang, basis pendukung yang besar di Indonesia, serta tim yang diunggulkan untuk menjadi juara.
Di tokonya, selembar jersey timnas peserta Piala Dunia 2026 dibanderol mulai dari harga Rp150.000. Beberapa negara unggulan yang jersey-nya menjadi andalan lapak jualan Alfian antara lain Portugal, Spanyol, Prancis, Jerman, dan Inggris. Negara-negara ini dinilai memiliki peluang besar untuk cepat laku karena selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat lokal.










Discussion about this post