Proyeksi Perdagangan Saham: IHSG Berpotensi Menguat di Tengah Berbagai Sentimen
Perdagangan saham pada hari Rabu, Juni 2026, diprediksi akan menunjukkan tren positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan bahwa IHSG masih berada dalam fase pergerakan yang mengindikasikan potensi penguatan lebih lanjut.
Menurut analisis skenario Elliott Wave, Herditya melihat IHSG masih dalam fase wave [v] dari wave A pada wave (2). Dalam jangka pendek, ada peluang bagi indeks untuk melanjutkan tren kenaikannya dan menguji area resistensi pada rentang 6.362 hingga 6.484. Sementara itu, area koreksi terdekat yang perlu diperhatikan berada di kisaran 5.899 hingga 6.080.
MNC Sekuritas menetapkan level support (batas dukungan harga) untuk IHSG pada rentang 5.996–5.889. Di sisi lain, level resistance (batas hambatan harga) diprediksi berada di antara 6.318–6.459.
Konsep support merujuk pada level harga tertentu di mana saham cenderung menemukan titik terendah dan memantul naik karena adanya peningkatan daya beli. Sebaliknya, resistance adalah level harga tertinggi yang ketika disentuh, biasanya memicu aksi jual yang cukup besar sehingga menahan laju kenaikan harga lebih lanjut.
Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas
Dalam strategi buy on weakness (membeli saat harga melemah), MNC Sekuritas memberikan beberapa rekomendasi saham yang patut dicermati:
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Direkomendasikan untuk melakukan akumulasi pembelian pada rentang harga Rp 1.750–Rp 1.845. Target harga yang ditetapkan adalah Rp 2.140–Rp 2.520, dengan batas stoploss (penghenti kerugian) di bawah Rp 1.600.
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Rekomendasi serupa diberikan untuk saham ini, yaitu buy on weakness pada area Rp 4.150–Rp 4.370. Target harga yang diproyeksikan adalah Rp 5.025–Rp 5.575, dengan stoploss ditempatkan di bawah Rp 4.110.
Analisis Teknikal dan Fundamental dari Phintraco Sekuritas
Phintraco Sekuritas mencatat bahwa IHSG berhasil ditutup menguat sebesar 1,11% pada perdagangan Selasa, Juni 2026, mencapai level 6.195,43. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan nilai tukar Rupiah yang juga menguat 0,2% dan ditutup pada level Rp 17.830 per Dolar Amerika Serikat.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat adanya sinyal positif pada IHSG. Hal ini terlihat dari kemampuannya untuk bertahan di atas level moving average (MA) 5 hari. Selain itu, indikator MACD menunjukkan histogram negatif yang terus menyempit, sementara Stochastic RSI bergerak menuju area pivot.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220–6.280,” tulis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya pada Rabu, Juni 2026.
Dari sisi fundamental, Phintraco Sekuritas menyoroti adanya peningkatan tekanan inflasi. Inflasi tahunan pada Mei 2026 tercatat naik menjadi 3,08% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dari 2,42% pada April 2026. Kenaikan inflasi ini sebagian besar didorong oleh kelompok makanan, yang mencatat inflasi sebesar 4,94% YoY, lebih tinggi dari 3,06% pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga bahan pokok dan biaya distribusi menjadi pemicu utama. Inflasi inti juga mengalami peningkatan menjadi 2,59% YoY dari 2,44% YoY.
Meskipun inflasi masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%-3,5%, Phintraco Sekuritas memperkirakan BI mungkin akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan jika inflasi terus menguat dan nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi lebih lanjut.
Di sisi lain, aktivitas sektor manufaktur menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50 pada Mei 2026, naik dari 49,1 pada April 2026 yang merupakan level terendah dalam sepuluh bulan terakhir. Kenaikan ini mengindikasikan kondisi sektor manufaktur yang relatif stabil. Pesanan baru tercatat meningkat selama dua bulan berturut-turut, meskipun pesanan ekspor masih tertekan akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Dari sektor eksternal, Phintraco Sekuritas mencatat adanya penyusutan surplus neraca perdagangan Indonesia. Pada April 2026, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$ 0,09 miliar, menurun drastis dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan surplus US$ 0,2 miliar pada April 2025, dan merupakan surplus terkecil sejak April 2020.
Penyusutan surplus ini disebabkan oleh lonjakan impor yang mencapai 22,5% YoY, terutama didorong oleh kenaikan impor migas sebesar 85,52%, sementara impor non-migas tumbuh 14,11%. Di sisi lain, ekspor tercatat meningkat 21,98% YoY pada April 2026, sebuah pembalikan dari kontraksi 3,1% yang terjadi pada Maret 2026. Angka pertumbuhan ekspor ini merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan impor migas, antara lain, dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia.
Rekomendasi Saham dari Phintraco Sekuritas
Phintraco Sekuritas juga merekomendasikan sejumlah saham yang patut diperhatikan investor, antara lain:
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
- PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
- PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA)
- PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)










Discussion about this post