klikkepri.com
No Result
View All Result
  • Login
SUBSCRIBE
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
No Result
View All Result
klikkepri.com
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
Home Teknologi

F-35B Inggris Lolos Uji Coba Tembus Pertahanan Rusia-China dengan Rudal Berbasis AI

Redaksi by Redaksi
26 Mei 2026 - 03:36
Reading Time: 6 mins read
0
F-35B Inggris Lolos Uji Coba Tembus Pertahanan Rusia-China dengan Rudal Berbasis AI

Pengembangan Rudal SPEAR 3 dan Integrasi dengan F-35B

Pengembangan rudal SPEAR 3 di Inggris sedang mempercepat prosesnya setelah jet tempur siluman F-35B berhasil menyelesaikan penerbangan uji dengan membawa empat rudal tersebut. Uji coba ini menjadi langkah penting dalam integrasi senjata presisi jarak jauh terbaru Inggris ke dalam pesawat tempur generasi kelima milik NATO.

Penerbangan uji dilakukan di Pangkalan Udara Angkatan Laut Patuxent River, Maryland, oleh Satuan Uji Terpadu F-35 bersama personel Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dalam pengujian tersebut, empat rudal inert SPEAR 3 dibawa sebagai bagian dari perekaman data lingkungan sebelum memasuki tahap uji pelepasan rudal dan integrasi penuh sistem misi.

Kopral RAF Daniel Housden menyebut pencapaian tersebut menjadi hasil penting dari kerja sama panjang tim pengujian Inggris dan Amerika Serikat. “Sebagai sebuah tim, kami telah bekerja keras menuju tonggak penting ini, dan saya bangga mengatakan bahwa SPEAR 3 kini telah diterbangkan pada F-35B,” katanya.

Sementara itu, manajer program integrasi senjata F-35 Joint Program Office Inggris dan Italia, Dan Shelton, mengatakan keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi intensif antara pemerintah Inggris, pemerintah AS, dan industri pertahanan.

Keunggulan dan Kemampuan Rudal SPEAR 3

SPEAR 3 (Selective Precision Effects At Range) merupakan rudal jelajah mini buatan MBDA yang dikembangkan untuk memperkuat kemampuan tempur F-35B dan Eurofighter Typhoon dalam menghadapi perang modern berbasis jaringan dan kecerdasan buatan. Rudal ini dirancang sebagai senjata presisi jarak jauh yang mampu menyerang target dari luar jangkauan sistem pertahanan udara lawan (stand-off strike capability). Dengan ukuran relatif kecil dan bobot di bawah 100 kilogram, SPEAR 3 mampu menjangkau sasaran lebih dari 100 kilometer menggunakan mesin turbojet mini.

Keunggulan utama SPEAR 3 terletak pada teknologi multi-mode seeker yang menggabungkan radar gelombang milimeter, GPS, sistem navigasi inersial, laser semi-aktif, dan two-way datalink. Sistem tersebut memungkinkan rudal menghantam target bergerak seperti tank, radar, peluncur rudal, hingga kapal kecil dengan tingkat presisi tinggi dalam berbagai kondisi cuaca.

Rudal ini juga dirancang agar dapat dibawa secara internal di ruang senjata F-35B tanpa mengurangi kemampuan siluman pesawat. Setelah integrasi penuh selesai, satu F-35B diproyeksikan mampu membawa hingga delapan rudal SPEAR 3 secara internal.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Selain varian serang utama, Inggris juga mengembangkan SPEAR-EW (Electronic Warfare), yakni versi peperangan elektronik yang dirancang untuk mengganggu radar dan sistem pertahanan udara musuh. MBDA bahkan tengah mengembangkan konsep operasi berbasis kecerdasan buatan melalui sistem Orchestrike, yang memungkinkan beberapa rudal SPEAR 3 bekerja secara terkoordinasi dalam pola swarm attack untuk membingungkan pertahanan lawan.

Tantangan dan Perkembangan

Namun di balik kecanggihannya, program SPEAR 3 menghadapi sejumlah penundaan. Rudal tersebut awalnya ditargetkan mulai operasional pada 2025, tetapi jadwalnya beberapa kali bergeser. Kementerian Pertahanan Inggris kini memperkirakan sistem tersebut baru akan mulai digunakan penuh pada akhir dekade ini hingga awal 2030-an.

Analis pertahanan menilai SPEAR 3 menjadi bagian dari perubahan besar dalam strategi perang udara modern. Jika sebelumnya dominasi udara bertumpu pada rudal besar dan mahal, kini negara-negara besar mulai mengandalkan senjata kecil berpresisi tinggi berbasis AI untuk menghadapi sistem pertahanan modern Rusia dan China.

F-35 dan Revolusi Perang Udara Modern

Kehadiran Lockheed Martin F-35 Lightning II menandai perubahan besar dalam cara perang udara modern dijalankan. Jika pada era sebelumnya superioritas udara ditentukan terutama oleh kecepatan, manuver, dan jumlah pesawat, maka pada era generasi kelima, kemenangan justru semakin ditentukan oleh kemampuan “melihat tanpa terlihat”, mengolah data lebih cepat daripada lawan, serta menghubungkan seluruh elemen tempur dalam satu jaringan digital terpadu.

F-35 bukan sekadar jet tempur biasa. Pesawat ini dirancang sebagai pusat komando udara bergerak yang mampu mengintegrasikan radar, sensor elektronik, pengintaian, hingga komunikasi lintas matra dalam waktu nyata. Karena itu, banyak analis militer menyebut F-35 sebagai “flying computer” atau komputer tempur terbang. Dalam praktiknya, pilot tidak lagi hanya menerbangkan pesawat, melainkan juga mengelola arus informasi yang sangat kompleks di medan perang.

Salah satu keunggulan utama F-35 adalah teknologi stealth atau siluman. Dengan desain khusus dan material penyerap radar, pesawat ini memiliki jejak radar yang sangat kecil sehingga lebih sulit dideteksi sistem pertahanan udara lawan. Dalam perang modern, kemampuan menghindari deteksi menjadi faktor vital karena banyak negara kini memiliki rudal pertahanan udara jarak jauh yang sangat mematikan. Pesawat generasi lama sering kali harus mengandalkan pengawalan atau serangan besar-besaran untuk menembus pertahanan lawan, sedangkan F-35 dirancang untuk masuk secara diam-diam dan menyerang target strategis dengan presisi tinggi.



Sebuah jet F-35. – (Abir Sultan/EPA)

Teknologi Sensor Fusion dan Jaringan Digital

Selain siluman, revolusi terbesar F-35 justru terletak pada kemampuan sensor fusion. Teknologi ini memungkinkan seluruh data dari radar, kamera inframerah, satelit, kapal perang, hingga pasukan darat digabungkan menjadi satu tampilan sederhana di kokpit pilot. Akibatnya, pilot dapat memahami situasi tempur secara menyeluruh hanya dalam hitungan detik. Dalam perang modern yang bergerak sangat cepat, keunggulan informasi seperti ini dapat menentukan hidup dan mati.

F-35 juga merepresentasikan perubahan doktrin perang udara dari platform-centric menjadi network-centric warfare. Pada masa lalu, tiap pesawat bekerja relatif mandiri. Kini, F-35 mampu berbagi data secara real time dengan pesawat lain, kapal perang, sistem rudal, bahkan drone tempur. Artinya, satu pesawat dapat menjadi “mata” bagi seluruh armada. Sebuah target yang ditemukan F-35 bisa langsung dihancurkan oleh kapal perang ratusan kilometer jauhnya tanpa kapal tersebut perlu menyalakan radar sendiri.

Kemampuan ini membuat F-35 sangat relevan dalam konflik modern yang melibatkan peperangan multidomain, yakni perang yang berlangsung simultan di udara, laut, darat, ruang siber, dan luar angkasa. Dalam skenario perang masa depan, jet tempur tidak lagi hanya berfungsi menembakkan misil, tetapi juga menjadi pusat distribusi informasi dan koordinasi operasi gabungan.

Meski demikian, program F-35 juga tidak lepas dari kontroversi. Biaya pengembangan yang sangat besar menjadikannya salah satu proyek militer termahal dalam sejarah. Kritik juga muncul terkait masalah teknis, biaya perawatan tinggi, hingga ketergantungan besar pada perangkat lunak. Namun di balik kritik tersebut, banyak negara tetap berlomba membeli F-35 karena menilai pesawat ini memberikan lompatan teknologi yang sulit disaingi jet generasi sebelumnya.

Kini F-35 telah digunakan oleh berbagai negara sekutu Amerika Serikat, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, hingga Israel. Penyebaran pesawat ini sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi militer modern tidak hanya menjadi alat perang, tetapi juga instrumen geopolitik dan pengaruh strategis global.

Mengapa F-35 Jadi Platform Ideal SPEAR 3?

Kombinasi antara Lockheed Martin F-35 Lightning II dan rudal SPEAR 3 dianggap sebagai salah satu pasangan paling efektif dalam konsep perang udara modern. Keduanya dirancang untuk saling melengkapi: F-35 menghadirkan kemampuan siluman dan dominasi sensor, sementara SPEAR 3 memberi kemampuan serangan jarak jauh presisi tinggi tanpa harus memasuki zona pertahanan udara lawan.

Keunggulan utama F-35 terletak pada teknologi stealth yang membuat pesawat sulit dideteksi radar. Dalam operasi penyerangan modern, kemampuan ini sangat penting karena banyak negara kini memiliki sistem pertahanan udara berlapis dengan radar jarak jauh dan rudal anti-pesawat canggih. Dengan jejak radar rendah, F-35 dapat mendekati wilayah musuh tanpa mudah terlacak, membuka peluang menyerang target strategis secara lebih aman.

Namun stealth saja tidak cukup. Di sinilah konsep stand-off attack menjadi kunci. SPEAR 3 dirancang sebagai rudal yang mampu diluncurkan dari jarak aman, jauh di luar jangkauan sistem pertahanan udara lawan. Artinya, F-35 tidak perlu terbang terlalu dekat ke target untuk melakukan serangan. Pesawat dapat tetap mempertahankan posisi relatif aman sambil menghantam sasaran dengan presisi tinggi.



Pesawat F-35 di RAF Marham berjalan menuju landasan pacu. – (tangkapan layar)



Prajurit Angkatan Laut Italia melintas di dekat pesawat tempur F-35B Lightning II dan AV-8B Harrier II yang terparkir di atas Flight Deck Kapal Induk Italia ITS Cavour C-550 saat port visit di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (197/9/2024). Gugus Tempur Kapal Induk Italia mengirim ITS Cavour C-550 bersama Kapal Fregat ITS Alpino F-594 dan Kapal PPA ITS Raimondo Montecuccoli P-432 dalam port visit untuk menjalin kerja sama antara TNI AL dengan Angkatan Laut Italia dalam pertukaran wawasan dan perspektif tentang perkembangan terbaru dalam pertahanan dan teknologi maritim. – (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)



Sebuah pesawat tempur F-35. – (timesofisrael)

Sinergi ini menciptakan efek strategis besar. F-35 menggunakan sensor canggihnya untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan memetakan target, lalu data tersebut digunakan SPEAR 3 untuk melakukan serangan presisi. Karena rudal memiliki kemampuan navigasi mandiri dan profil terbang rendah, peluang lolos dari deteksi radar lawan menjadi lebih tinggi.

Keunggulan lain terletak pada kompatibilitas internal weapons bay milik F-35. SPEAR 3 dirancang agar dapat dibawa di ruang senjata internal tanpa merusak karakter stealth pesawat. Ini penting karena membawa rudal di bawah sayap biasanya meningkatkan jejak radar pesawat. Dengan konfigurasi internal, F-35 tetap mempertahankan kemampuan silumannya bahkan saat membawa persenjataan dalam jumlah signifikan.

Dalam skenario perang modern, kombinasi F-35 dan SPEAR 3 memungkinkan serangan terhadap radar, pusat komando, peluncur rudal, maupun target bergerak dengan risiko lebih kecil bagi pilot. Konsep ini mencerminkan arah evolusi perang udara saat ini: menyerang lebih jauh, lebih cepat, dan lebih presisi tanpa harus masuk langsung ke area paling berbahaya.

ShareTweetSend
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Itel A300+ Muncul dengan Layar Belakang dan Baterai 7.000 mAh
Teknologi

Itel A300+ Muncul dengan Layar Belakang dan Baterai 7.000 mAh

17 Oktober 2026 - 22:00
Digimap Beri Sinyal iPhone Duo Masuk Indonesia, Jadwal Jual Belum Jelas
Teknologi

Digimap Beri Sinyal iPhone Duo Masuk Indonesia, Jadwal Jual Belum Jelas

17 Oktober 2026 - 01:41
itel City 300 5G Hadir dengan Layar 120Hz, Bodi 8,4 mm, dan Baterai 5000mAh
Teknologi

itel City 300 5G Hadir dengan Layar 120Hz, Bodi 8,4 mm, dan Baterai 5000mAh

16 Oktober 2026 - 13:21
Apple Dikabarkan Kurangi Pesanan Komponen iPhone 18 Pro, Isu Permintaan Jadi Sorotan
Teknologi

Apple Dikabarkan Kurangi Pesanan Komponen iPhone 18 Pro, Isu Permintaan Jadi Sorotan

16 Oktober 2026 - 02:43
BYD Bawa Pengisian Ultra Cepat ke Indonesia, 10-70 Persen Hanya 5 Menit
Teknologi

BYD Bawa Pengisian Ultra Cepat ke Indonesia, 10-70 Persen Hanya 5 Menit

14 Oktober 2026 - 18:55
iPhone 18 Pro Dikabarkan Mulai Dipesan 16 Oktober 2026, Usung Kamera Bukaan Variabel
Teknologi

iPhone 18 Pro Dikabarkan Mulai Dipesan 16 Oktober 2026, Usung Kamera Bukaan Variabel

14 Oktober 2026 - 11:51
Next Post
Kebakaran genset di Sumatera, tujuh korban keracunan, empat tewas, mulut berbusa

Kebakaran genset di Sumatera, tujuh korban keracunan, empat tewas, mulut berbusa

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Minggu 24 Mei 2026

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Minggu 24 Mei 2026

Discussion about this post

klikkepri.com

Klik Kepri Merupakan Portal Berita yang menyajikan informasi Indeks berita terkini dan terbaru hari ini dari peristiwa, kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia

Copyright© 2026 | Klikkepri.com

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Teknologi
  • Batam
  • Anambas
  • Bintan
  • Lingga
  • Natuna
  • Tanjung Pinang
  • Karimun
  • Disclamer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Subscription
  • Category
    • Lifestyle
    • Health
    • Travel
    • Opini
    • Tech
    • World
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

Copyright© 2026 | Klikkepri.com