Siswa SMK di Kudus Mengirim Surat Terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto
Seorang siswa SMK asal Kabupaten Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi, menjadi perhatian publik setelah menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Dalam surat tersebut, ia menyampaikan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan meminta anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk dirinya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer.
Arsya adalah siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual di SMK NU Miftahul Falah Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Melalui suratnya, ia menyampaikan pandangan pribadi yang cukup berani mengenai kebijakan pemerintah. Ia tidak hanya menolak MBG untuk diri sendiri, tetapi juga mengusulkan agar dana yang seharusnya diterimanya dari program tersebut dialihkan untuk tunjangan guru di sekolahnya.
Surat tersebut kemudian dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, @arsya_graph. Dalam unggahan itu, Arsya turut menautkan akun Tiyo Ardianto serta menandai sejumlah tokoh, termasuk Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming, Ahmad Luthfi, Taj Yasin, hingga Bupati Kudus Sam’ani dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton.
Respons publik terhadap unggahan tersebut sangat besar. Hingga saat ini, unggahan tersebut telah mengumpulkan sekitar 12 ribu tanda suka dan ratusan komentar, yang sebagian besar berisi dukungan terhadap sikap yang diambil Arsya.
Dalam suratnya, Arsya menyoroti kondisi kesejahteraan guru yang menurutnya masih perlu perhatian lebih. Ia menyebut bahwa masih banyak guru, termasuk di sekolahnya, yang belum mendapatkan kesejahteraan yang layak, sementara di sisi lain pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program MBG.
“Melalui surat ini saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan untuk menolak MBG untuk diri saya. Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” tulisnya dalam surat tersebut.
Sebagai siswa kelas XI, Arsya masih memiliki waktu sekitar satu setengah tahun untuk menyelesaikan pendidikannya di SMK. Dalam perhitungannya yang sederhana, ia mengalikan sisa masa belajar selama 18 bulan dengan 25 hari sekolah dan nominal Rp15 ribu per hari. Dari hitungan tersebut, total dana yang dimaksud mencapai Rp6.750.000.
Langkah yang diambil Arsya ini pun memunculkan diskusi luas, sekaligus menjadi gambaran bagaimana seorang pelajar dapat menyuarakan pandangannya terhadap kebijakan publik dengan cara yang santun dan terukur.
“Bagi saya pribadi angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru. Saya mohon alihkan jatah saya untuk kesejahteraan guru saja,” tulis surat Arsya.
Yang mendorongnya untuk menulis surat kepada Prabowo lantaran dia memikirkan kesejahteraan guru honorer yang dinilai kalah dengan kesejahteraan yang diterima pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Saya berinisiatif untuk diri saya sendiri supaya anggaran yang diberikan kepada saya diganti supaya untuk menambah gaji guru honorer. Supaya gaji guru honorer lebih layak untuk digaji,” kata Arsya melalui sambungan telepon.
Dia menilai, kemajuan suatu bangsa berawal dari pendidikan. Sedangkan pendidikan bertumpu pada dedikasi para guru. “Katanya mau buat Indonesia emas. Kalau MBG menurut saya tidak membuat pintar dan semua berasal dari guru yang baik supaya anak dididik lebih baik,” kata Arsya.










Discussion about this post