Ancaman Trump untuk Mengurangi Pasukan AS di Jerman
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Rabu (29/4/2026), mengumumkan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan pengurangan jumlah pasukannya yang bermarkas di Jerman. Keputusan ini akan diambil dalam waktu dekat dan menjadi langkah yang sangat mengejutkan bagi negara-negara Eropa. Ancaman ini muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik strategi Washington dalam perang melawan Iran. Hubungan antara kedua pemimpin semakin tegang akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Perseteruan Antara Trump dan Merz tentang Perang di Iran
Perseteruan antara Trump dan Merz bermula ketika Kanselir Jerman tersebut berbicara di depan para pelajar di Marsberg pada awal pekan ini. Ia menyebut bahwa AS tidak memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi Iran dan sedang dipermalukan oleh negosiator Iran. Merz menyatakan bahwa orang-orang Iran sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya terampil dalam tidak bernegosiasi. Mereka membiarkan delegasi Amerika bepergian jauh ke Islamabad lalu pulang dengan tangan kosong.
Trump merespons komentar Merz melalui akun Truth Social miliknya. Ia menilai Merz meremehkan program senjata nuklir Iran dan tidak mengerti apa pun soal situasi perang. “Kanselir Jerman Friedrich Merz berpikir bahwa tidak masalah bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan!” tulis Trump.
Jerman Menampung 38 Ribu Pasukan AS
Jerman saat ini menjadi pusat kehadiran militer AS di benua Eropa. Terdapat sekitar 35 ribu hingga 38 ribu personel militer aktif AS yang ditempatkan di negara tersebut. Negara ini juga menjadi markas bagi Komando Eropa AS (EUCOM) dan Komando Afrika AS (AFRICOM). Selain itu, Jerman menampung fasilitas penting seperti Pangkalan Udara Ramstein dan Pusat Medis Regional Landstuhl.
Pangkalan militer ini sangat penting bagi berbagai operasi pertahanan AS di seluruh wilayah. Lokasi tersebut sering digunakan sebagai titik transit bagi pesawat maupun pasukan yang menuju Timur Tengah. Penarikan pasukan secara mendadak dinilai akan menghadapi berbagai tantangan logistik. Pentagon diprediksi akan kesulitan mencari pangkalan lain di Eropa yang cukup besar untuk menampung seluruh pasukan tersebut.
Trump Pernah Memerintahkan Penarikan Serupa pada 2020
Gagasan untuk menarik pasukan dari wilayah Jerman sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi Trump. Pada tahun terakhir masa jabatan pertamanya di 2020, ia pernah memerintahkan kepulangan 12 ribu tentara AS. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk protes karena Jerman dianggap terlalu pelit dalam mendanai NATO. Namun, proses penarikan itu berjalan lambat dan akhirnya dibatalkan ketika Joe Biden mengambil alih kepresidenan.
Peluang Trump untuk merealisasikan ancamannya kali ini dinilai akan kembali mendapat hadangan dari parlemen. Parlemen AS sebelumnya telah mengesahkan undang-undang untuk mencegah presiden mengambil keputusan sepihak terkait NATO. Namun, para ahli menilai Gedung Putih tetap memiliki celah untuk melemahkan aliansi tersebut tanpa harus keluar secara resmi. Salah satu caranya adalah dengan menarik pasukan AS dari Eropa.












Discussion about this post